Benarkah Wi-Fi Berbahaya Bagi Organ Hidup Bagian 2

TETAP LAKUKAN PENEGAHAN

sat-jakarta.com – Beberapa penelitian mengungkap adanya bahaya Wi-Fi. Sejauh mana kebenarannya?

Seperti diutarakan oleh Profesor Sir William Stewart, Ketua Health Protection Agency (HPA), walau radiasi Wi-Fi di bawah tingkat yang direkomendasikan, jadi dianggap aman, tapi ia menganjurkan pendekatan pencegahan. Caranya:

1. Gunakan jaringan kabel daripada jaringan nirkabel. Alternatif lain koneksi internet selain Wi-Fi adalah menggunakan kabel telepon atau modem. Jadi, bila Mama Papa masih waswas akan dampak Wi-Fi bagi kesehatan anak, gunakan modem atau jaringan kabel untuk menghubungkan satu komputer ke komputer lainnya.

Sekilas memang sangat tidak praktis, namun kalau itu dapat membuat Mama Papa merasa lebih aman, mengapa tidak? Apalagi kualitas koneksinya umumnya jauh lebih stabil. Jika kita memilih untuk tetap menggunakan Wi-Fi, pastikan kita duduk minimal 1 meter dari router. Dan sekali lagi, minta anak untuk tidak menaruh laptop di atas pangkuan, taruh di atas meja.

2. Memasang penghambat sinyal Wi-Fi dari luar. Bagaimana dengan koneksi Wi-Fi di sekitar kita? Kalau kita memang benar-benar khawatir akan dampak Wi-Fi, kita bisa melapisi tembok-tembok, pintupintu, dan jendela-jendela yang ada di sekitar kita dengan materi yang dapat menghambat sinyal Wi-Fi (aluminum foil dipercaya merupakan materi yang efektif). Atau konsultasikan hal ini pada teman yang memang ahli dalam teknologi informasi (TI).

3. Hindari berlama-lama di tempat yang terdapat sinyal Wi-Fi. Jika kita berada di tempat umum yang terdapat sinyal Wi-Fi cukup intensif, seperti: di mal, restoran, kafe, kantin, pasar, terminal, bandara, dan sebagainya, sebaiknya kita tidak berlama-lama beraktivitas di tempat tersebut.

4. Atur penggunaannya dengan bijak. Jika Mama Papa menggunakan Wi-Fi di rumah, aturlah penggunaan internet, termasuk Wi-Fi secara bijak. Misal, akses internet di rumah dilakukan di ruang keluarga, seperti halnya menonton televisi pun di ruang keluarga, agar bisa diawasi dan mudah untuk membatasinya. Penggunaan software yang bisa membatasi akses ke situs-situs yang tidak baik untuk anak pun perlu dipelajari dan dilakukan oleh orangtua.